Bumi qt nee!

 Anggapan sebagai orang gila begitu lekat dalam diri H.Chaerudin alias Bang Idin. Betapa tidak. Untuk mewujudkan mimpinya menghijaukan bantaran Kali Pesanggrahan, ia berani bersitegang dengan orang gedongan yang notabene para pejabat, yang tinggal dikawasan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Bang Idin pun nekat menyusuri kali pesanggrahan hanya dengan rakit pelepah pisang selama lima hari enam malam, demi melihat kondisi sungai yang saat itu penuh dengan sampah dan airnya berwarna kelam. Bagi Bang Idin, upaya penyelamatan Kali Pesanggrahan ini harus didasari dengan pemahaman. “Orang yang pahamlah yang akan mengerti betapa pentingnya sebuah upaya konservasi lingkungan,” kata Bang Idin ketika tampil di Kick Andy.

Lima belas tahun berlalu, julukan orang gila telah lekang dari diri Bang Idin. Orang-orang disekelilingnya kian paham dengan apa yang dilakukan Bang Idin. Kondisi bantaran Kali Pesanggrahan pun tak lagi tandus dan penuh sampah. Sebaliknya bantaran sungai yang membelah kawasan Selatan Jakarta itu terlihat hijau oleh rimbunnya pepohonan yang jumlahnya sekitar enam puluh ribu spesies tanaman. Tentu saja itu semua tidak terlepas dari upaya Bang idin bersama teman-temannya dari Kelompok Tani Sangga Buana yang pantang menyerah melakukan upaya penghijauan dan konservasi dengan manajemen kearifan alam.

Bukan hanya Bang Idin yang terpanggil untuk menyelamatkan nasib bumi ini. Pak Salam punya cara lain. Dengan prinsip menjadikan sampah sebagai sahabat, Pak Salam membuka Kedai Daur Ulang. Kedai Daur Ulang milik Pak Salam ini menerima sampah-sampah kertas untuk kemudian diolah menjadi barang-barang seperti kertas daur ulang lokal, kerajinan tangan, boks-boks, frame foto, dsb. Yang menarik, Kedai Daur Ulang sudah mempunyai langganan perusahaan-perusahaan yang ingin membuang sampah kertasnya untuk menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Dari Surabaya, ada Maria Joanni. meski baru berusia 10 tahun, Joanni sudah memikirkan pentingnya kelestarian alam untuk anak cucu kelak. Joanni yang masih duduk dikelas lima SD ini begitu kritis terhadap penggunaan barang yang mengandung bahan perusak ozon. Begitu kritisnya, Joanni pernah memprotes panitia sebuah acara berlingkup nasional yang memberinya konsumsi dengan pembungkus styrofoam. “Pembungkus styrofoam kan tidak ramah ozon, makanya aku menolak,” ujar Joanni yang mengaku sering pula tidak jadi makan di restoran kalau kemasannya menggunakan styrofoam. Karena keberanian serta sikap kritisnya tersebut, Joanni mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Ozon atau Ozone Hero dari Klub Tunas Hijau.

Klub Tunas Hijau sendiri beranggotakan anak-anak dan remaja yang mencintai dan peduli dengan keselamatan lingkungan. Klub yang dimotori oleh Muchamad Zamroni dan kawan-kawan ini memilki berbagai program dan karya, seperti membuat komik-komik bertemakan lingkungan serta menciptakan permainan ular tangga yang juga bertemakan lingkungan. Bahkan permainan ular tangga karya Klub Tunas Hijau ini selain diadopsi oleh Badan PBB UNEP, juga sudah dibuat dalam versi tiga bahasa. Bentuk peduli lingkungan lainnya, diekspresikan pula oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB. Mereka berencana menggelar Anti Plastic Bag Campaign atau kampanye Anti Kantung Plastik, Februari mendatang. Anti kantung plastik dipilih sebagai tema kampanye, karena Bandung yang dulu dikenal sebagai kota kembang kini justru tengah bertarung dengan masalah sampah. Dari timbunan sampah yang menggunung di beberapa sudut kota Bandung, menurut salah satu panitia, Bunga Mentari, sampah plastiklah yang paling banyak jumlahnya. Padahal, dampak limbah plastik yang sulit terurai itu merupakan salah satu penyumbang besar adanya pengrusakan lingkungan.

Kick Andy kali ini juga mengangkat kisah para pemenang film dokumenter yang diselenggarakan oleh The BodyShop dan Dewan Kesenian Jakarta. Sekelompok anak SMU, yaitu Joan Kartini Rossi, Amalia Sekartaji dan M.Rezky Afriza, membuat film bertajuk “Utopia.” Film dokumenter ini mengkritisi makin langkanya ruang hijau terbuka di Jakarta lantaran tergerus oleh pembangunan gedung-gedung bertingkat dan mal-mal. Sementara itu, M Iskandar Tri Gunawan dalam filmnya “Kereta Angin Sahabat Bumi” mengangkat Komunitas Pekerja Bersepeda atau Bike To Work yang mengampanyekan penggunaan kembali sepeda sebagai kendaraan yang ramah lingkungan. Namun sayang, selama ini sepeda masih dianggap sebagai kasta terendah dalam deretan kendaraan.

Last but not least, ada pula Slamet Waluyo. Ia terpanggil ikut peduli terhadap kelestarian lingkungan melalui koleksi-koleksi kaos bekas. Meski kerap dimarahi oleh sang istri, Slamet tetap menjalani hobinya berburu kaos bekas bergambar ataupun bertuliskan pesan lingkungan yang kemudian dibingkainya menjadi sebuah karya sederhana namun penuh makna.

<!–Bantuan Anda dapat disalurkan melalui:
Bank BCA Puri Indah a/n: PT Media Televisi Indonesia
No. Rek: 2883016777

–><!–

–>

<!–

–>

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.